image1 image2 image3 image3 image3

SELAMAT DATANG PARA PETUALANG | WISATA | KULINER | PROMO | KOMUNITAS | TIPS

Menyusuri Tapal Batas Indonesia Di Entikong 2


Baru ini saya kembali update pengalaman di tahun 2016, di bulan Februari 2016 saya ditugaskan ke pedalaman Kalimantan tepatnya Dusun Mangkau, Desa Pala Pasang, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Saat itu masih pembangunan gerbang perbatasan Entikong yang tidak saya sempat foto namun geliat hilir mudik para TKI pun mengalir deras dengan proses yang ketat.

Sebelum masuk ke hutan Kalimantan Barat, saya bertemu dulu dengan kepala Desa Pala Pasang pak Antonius yang dilibatkan dalam pengurusan worktrip kali ini, bersama logistik yang cukup berat perahu klotok yang saya naiki. Akhirnya mengarungi sungai sekayam merupakan akses satu-satunya menuju dusun Mangkau, walaupun baru-baru ini pembukaan jalan menuju desa tersebut sudah dibuka melalui darat oleh pasukan TNI.

Butuh waktu 5-6 jam saya menuju dusun tersebut menyusuri sungai Sekayam yang saat itu cukup dangkal, sesekali saya harus turun dari perahu sambil mendorong perahu dengan muatan logistik telekomunikasi. Dokumentasi pun terus direkam untuk dokumentasi program pemerintah yakni USO Kewajiban Pelayanan Universal/Universal Service Obligation (KPU/USO) merupakan program pemerataan pembangunan telekomunikasi dan informatika yang diprioritaskan di daerah terluar/perbatasan, desa tertinggal, desa terpencil, daerah rintisan dan daerah yang tidak layak secara ekonomis serta wilayah yang belum terjangkau akses dan layanan telekomunikasi. 

Sebelum masuk menyusuri sungai saya harus telepon pimpinan dan keluarga terlebih dahulu di Entikong, karena tidak ada sinyal telekomunikasi jika sudah masuk ke dusun tersebut, sore jelang petang itu saya pun tiba di dusun itu langsung bertemu dengan kepala dusun Rupinus Say menyampaikan maksud dan tujuan beliau pun mengawasi pembangunan BTS telekomunikasi yang menggunakan tenaga surya itu.

Menjelang malam pun saya menginap di rumah kepala dusun, disana tidak ada telepon, dan kebetulan listrik pun padam karena sudah lama pembangkit listrik yang menggantungkan pada arus air sungai tersebut rusak. malam gelap gulita mengandalkan emergency lamp yang di charger menggunakan genset sebelumnya, saya pun mandi uniknya rumah kepala dusun kamar mandinya khusus buat mandi saja tidak tuk cuci kakus.

Gelapnya malam menghantarkan kita berbincang-bincang hingga larut rasa lelah di perjalanan tadi membuat saya harus beristirahat, kamar yang gelap dengan sedikit cahaya. Kalau dirumah televisi jadi penghantar tidur efektif namun disini hanya ditemani suara merdu binatang malam. Tuk membunuh kesunyian saya pun memutar musik dari HP Nokia jadul saya sebagai penghantar tidur yang efektif. Lalu terlelaplah saya.

Keesokan harinya matahari begitu terik walaupun masih pagi sekali namun aktifitas masyarakat sudah menggeliat termasuk anak sekolah yang mulai bersiap tuk pergi sekolah. Tugas pertama adalah interview dan mengambil gambar, setelah siang pun selesai lalu sorenya rencananya pulang menyusuri sungai kembali. Karena arus sungai itu ke bawah jadi diperkirakan akan lebih cepat dan menghemat bahan bakar. itu akhir perjalanan saya menyusuri tapal batas Indonesia di Entikong, untuk masyarakat Dusun Mangkau baru kali ini merasakan sinyal telekomunikasi di bulan Februari 2016.

Share this: